Mendidik Jenius, Membangkitkan Seniman



Di antara semua jenis kerakusan, ada salah satu yang menyehatkan, asalkan ia dikaitkan dengan… belajar. Dan di antara semua pengidap “kelainan” ini, ada yang disebut sebagai omnivorous learner, karena mereka nyaris melahap segala rupa. Selalu ada hal-hal yang merangsang nafsu belajar mereka setiap harinya, seakan dunia ini merupakan wahana permainan.  Ada yang memuaskan nafsunya melalui berbagai pertanyaan, bacaan, maupun eksperimen. Namun tidak sedikit yang melampiaskan hasrat ini melalui eksplorasi fisik, sebagaimana dilakukan para penyuka olah tubuh, penjelajah Alam, penggemar fotografi, dan -tentu saja- kanak-kanak.

Di antara semua bentuk keliaran (yaitu perilaku yang cenderung memilih jalan yang tak biasa), ada yang sangat bermanfaat, asalkan ia berurusan dengan … hasrat belajar.  Keliaran semacam ini seperti pernyataan tanpa kata-kata, bahwa kita mungkin telah menyederhanakan hal-hal yang tak sederhana, atau bahkan bertindak tergesa-gesa.Siapa tahu pertanyaan terbaik itu belum pernah diajukan ? Atau jangan-jangan jawaban terbaik itu sedang dalam proses perbaikan ? Kehidupan selalu berubah, keragaman perspektif adalah berkah, membuat upaya memaksakan jawaban tunggal atas sebuah persoalan itu … payah.  Adalah Leonardo Da Vinci, salah satu sosok rakus dan liar yang seumur hidupnya berumah di dalam ‘dunia penuh kemungkinan’ semacam itu. Seniman eksentrik itu diam-diam melanggar sejumlah aturan pada jamannya, membedah mayat yang makin membusuk di waktu-waktu istirahatnya, demi sebuah hasrat untuk mempelajari anatomi tubuh manusia. Namun sosok Da Vinci terpenting yang seringkali luput dari pengamatan kita adalah … kanak-kanak. Termasuk di antaranya adalah jiwa kanak-kanak dalam diri kita.
Mari kita lihat betapa alamiahnya rakus dan liar yang satu ini; jelas ini sama sekali bukan kelainan !

Sebuah tes untuk menguji adanya kemampuan divergent thinking dilakukan terhadap 1.600 kanak-kanak berusia 5 tahun, atas prakarsa George Land dan Beth Jarman, pengarang buku Breakpoint and Beyond: Mastering the Future Today.  Divergent thinking -atau berpikir lateral menurut Edward de Bono- ini merupakan tanda-tanda awal akan adanya kapasitas kreatif, karena menggambarkan berapa derajat kebebasan berpikir seseorang.  Hasil tesnya ternyata sangat mencengangkan, karena 98 % dari seluruh bocah kindergarten tersebut memiliki skor setingkat para jenius ! Sebagai pembanding, dari sejumlah 280.000 orang dewasa yang pernah mengikuti tes -yang biasa digunakan NASA dalam merekrut ilmuwan yang paling inovatif itu-, hanya ada sedikit saja yang bisa dikategorikan sebagai jenius seperti mereka. Dan yang dimaksud sedikit itu adalah … 2 % !

Kejutan itu tidak berakhir sampai di sini. Dalam waktu lima dan sepuluh tahun kemudian, kanak-kanak yang sama kembali diundang untuk menjalani tes serupa. Namun mereka -yang kini sudah mengenal pendidikan formal- itu bukan lagi merupakan kumpulan besar jenius cilik. Hanya ada 30 % yang masih tetap jenius -saat mereka mencapai usia 10 tahun, jumlah itu bahkan melorot lagi ke tingkat 12 % -saat usia mereka 15 tahun !  Inilah saat dimana judul sebuah film Disney : “Honey, I Shrunk the Kids” tidak lagi terdengar seperti metafora, melainkan menjelma menjadi kenyataan yang amat brutal.  Dan sumber kenyataan brutal itu tak lain adalah …sistem pendidikan !
.
13364643231836661469
.

Pertanyaannya : Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita ?
Sistem ini sesungguhnya juga merupakan korban, tepatnya korban dari cara berpikir kita yang semakin menjauhi hal-hal alami. Lihatlah bagaimana siswa sekolahandigelandang dalam ‘mekanisme penertiban’ yang dioperasikan seperti mesin pabrik, seakan-akan mereka hanyalah produk bernomor seri yang harus berakhir sebagai output yang seragam.  Semua proses dijalankan secara linier dan mekanistis, lengkap dengan penerapan standardisasi yang membuat para siswa itu makin mirip dengan makanan cepat-saji, demikian kelakar seorang pakar kreativitas dan inovasi bernama Sir Ken Robinson.  Bahkan atas nama kendali dan ketertiban, jawaban yang ‘benar’ sengaja dibatasi -untuk tidak menyebut hanya satu-, itupun masih dengan catatan bahwa yang dimaksud ‘benar’ adalah yang disepakati para guru.
.
13366368251863075512


.
Apa yang selanjutnya terjadi pada kanak-kanak itu adalah … tragedi.
Ketika pendidikan formal berhasil mengubah individu -yang tadinya unik itu- menjadi …robot yang lebih tertarik untuk menghafal jawaban tunggal, sesungguhnya berbagai kekuatan alami dalam diri mereka sedang bersiap-siap untuk tidur panjang.  Salah satu kekuatan itu adalah divergent thinking, sebuah kapasitas kreatif yang mampu menginterpretasikan pertanyaan dengan begitu banyak cara, sehingga memungkinkan mereka untuk menemukan jawaban yang lebih kaya.  Sayangnya, siswa tidak diperkenankan untuk mempercayai dan mengembangkan interpretasinya sendiri; mereka bahkan belajar untuk bergantung pada persetujuan orang lain, dimana guru dan lembar kunci jawaban tunggal adalah sandaran pertama mereka.  Dengan semua gambaran ini, tidaklah mengherankan jika potensi kreatif mereka tertidur, atau bahkan pingsan !  Tentunya juga tidak mengejutkan menyaksikan antusiasme anak-anak muda yang semakin memudar terhadap pendidikan formal.  Ketika anak-anak desa semakin banyak -dan semakin awal- meninggalkan sekolah karena tidak merasakan manfaatnya, rekan-rekannya di kota tetap memburu sekolah - meski didasari motivasi yang tidak berasal dari hasrat terdalamnya.  Tirani dalam sistem pendidikan itulah yang -dengan suntikan anastesinya- telah melukai dimensi batin dan membunuh hasrat belajar siswa yang sesungguhnya dilahirkan sebagai jenius alami.
Apakah artinya belajar ? Apakah gunanya pendidikan ?

Belajar adalah aktivitas batin; jelas bukan belajar namanya jika sebagian dimensi batin kita tertidur, dan hasrat terdalam kita tak hadir.  Juga tak akan pernah ada jejaknya, jika belajar itu dilandasi motivasi yang tidak berasal dari dalam diri.  Kita adalah Alam, karena itu kita membutuhkan ruang pertumbuhan alami. Segala yang alami itu selalu bertumbuh secara innate process, dimana puncak kepuasan terjadi setelah keunikan kita yang tersembunyi itu terekspresikan.  Jika hasrat alami ini dihalang-halangi, maka kita akan menghadapi sabotase diam-diam yang dilakukan oleh dimensi batin yang diabaikan dan terluka tadi.  Sabotase ini mencapai puncaknya saat seseorang merasakan berbagai indikasi seperti : kekosongan, mati rasa, dan … tidak peduli.  Selanjutnya … perlukah kita terheran-heran -sekali lagi- menyaksikan betapa banyak orang-orang yang berpendidikan, namun tidak diiringi dengan kepedulian ?  Sepertinya ketidakpedulian itu bukanlah semacam kejahatan, melainkan ekspresi dari … rasa sakit yang tersembunyi. Sungguh mengenaskan mengetahui bahwa sistem pendidikanlah ternyata penyebab tragedi kemanusiaan sebesar ini, tepatnya sistem pendidikan yang dijalankan secara mekanistis.
.

1336637709171330471
.
Adalah seniman besar bernama Pablo Picasso yang mengatakan bahwa : “Setiap anak terlahir sebagai seniman”, meski ia ragu apakah jiwa seni tersebut akan tetap bertahan setelah anak-anak  tumbuh besar.  Ada juga Albert Einstein yang mengatakan bahwa pendidikan seharusnya merupakan seni, dengan puncak pencapaian yang berupa “bangkitnya kecintaan pada ekspresi kreatif dan pengetahuan”.  Seni memang berhubungan dengan upaya menemukan segala sesuatu sebagai pengalaman estetis, dimana bersatunya jiwa dan raga kita di dalam prosesnya membuat kita merasakan pengalaman puncak yang menggetarkan. Pengalaman estetik inilah yang selamanya akan hidup, bahkan menghidupkan hasrat terdalam seseorang, entah itu digunakan untuk terus bertanya, terus mencari, terus mengagumi, serta terus melibatkan diri dalam kehidupan yang lebih besar.  Seni mendidik semacam inilah yang selayaknya menjadi tumpuan harapan kita, sembari menggantikan pendekatan mekanistik yang tanpa jiwa …

Jelas kita tidak membutuhkan guru yang cenderung menyederhanakan masalah dengan cara memaksakan suntikan pengetahuan sedemikian rupa, karena dampak semua suntikan semacam itu adalah anastetik (an-aesthetic : mati rasa, tidak merasakan getaran). Pendidik seyogyanya memiliki sentuhan personal, karena hanya sentuhan personal sajalah yang bisa membangkitkan hasrat personal siswa. Pendidik juga berperan bagai penanam yang memfasilitasi ruang-tumbuh siswa, memupuk bakat alamiahnya sedemikian rupa, hingga mencapai tingkat dimana sang siswa tidak perlu lagi bersandar pada bimbingannya. Dengan cara inilah pendidik memuliakan kekhususan yang dilekatkan Tuhan pada setiap diri, sambil mengembangkan selera estetis siswa untuk terus mencari hal-hal yang menggetarkan batinnya sendiri.

Akhir kata, biarlah kerakusan dan keliaran itu berlangsung alami tanpa perlu penertiban, selama itu menyangkut hasrat belajar. Karena kelak pada waktunya, di dalam batin yang selalu dihidupkan itu akan terdengar sebuah panggilan yang berasal dari hasrat tertinggi. Hasrat di tingkat itulah yang akan mentransformasikan sang pembelajar menjadi sosok yang merasakan kerinduan yang teramat sangat, entah untuk sekedar peduli, berbagi, dan berpartisipasi.
Dan sungguh, kita teramat sangat menantikan kebangkitan semacam itu.

Analisis Sakral: Misteri Sukhoi SSJ 100 Rusia Masih Bayang-bayang


Diatas kecemasan para keluarga korban jatuhnya pesawat Sukhoi Super Jet 100 (SSJ 100) yang terjadi pada hari Rabu 9 Mei 2012 beberapa hari lalu, tim penyelamat dan para relawan lainnya masih berkerja keras untuk terus mengevakuasi para korban serta mengumpulkan pecahan pesawat yang berserakan. 

Banyak para regu penyelamat saling bahu membahu untuk terus bekerja tidak mengenal lelah walau mereka sering kali dihadapi medan yang begitu ekstrim, serta keadaan cuaca yang tidak menentu. Mereka nampak sungguh terpanggil untuk terus bisa mencari dan berupaya menyelamatkan para korban jatuhnya pesawat SSJ 100 yang kecil kemungkinan ada yang selamat. Ini terbukti begitu mengerikan kondisi pesawat benar-benar sudah hancur berkeping-keping, hampir tak tersisa kondisinya.
Pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) sebelum tinggal landas di Lanud Halim Perdana Kusuma
Pesawat Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) sebelum tinggal landas di Lanud Halim Perdana Kusuma
Silih berganti para regu penyelamat dari berbagai elemen dan instansi terkait berusaha untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya, walau mereka dikejar waktu yang diharapkan kepada keluarga korban jatuhnya pesawat SSJ 100 Rusia.

Hingga saat ini telah banyak terkumpul tubuh jasat para korban yang kebanyakan sudah tidak utuh lagi dimasukan ke dalam kantung-kantung jenazah. Hingga saat ini sudah terkumpul 32 kantung jenazah berisi para jenazah korban SSJ 100, selain itu sebagian kantung terisi material-material pecahan pesawat didalamnya.

Kita berharap para regu penyelamat dan relawan dapat menjalankan tugas mulianya dengan tuntas, tanpa kurang satu apapun. Namun akan tetapi kita juga harus menyadari mereka itu adalah manusia yang butuh istirahat dan makan, maka harapan kita mereka dapat kekerja keras dengan mengedepankan pula keselamatannya. Disinilah tantangan mereka untuk bisa memenejemen kondisi fisiknya, selain itu mereka juga tertantang untuk bisa mengatasi berbagai rintangan yang ada di tempat terjadinya jatuhnya SSJ 100.
Tim regu penyelamat sedang bekerja keras mengevakuasi korban SSJ 100 Rusia
Tim regu penyelamat sedang bekerja keras mengevakuasi korban SSJ 100 Rusia
Kita tahu betul tempat itu terbilang sangat ekstrim, terjal dan curam, belum lagi cuaca yang sering kali berganti-ganti tidak menentu. Itu puncak bukit dan tebing Gunung Salak 1 yang masih terbilang rawan lokasinya untuk lintasan pesawat-pesawat terbang, juga beberapa puncak lainnya yang berada di Gunung Salak Bogor - Sukabumi ini.


Benarkah Jalur Penerbanan di Indonesia Kebanyakan Jalur Neraka Bagi Pesawat Terbang ???

Sebenarnya hampir di setiap daerah di Indonesia yang memiliki banyak gunung maupun pegunungan masih banyak memiliki titik-titik rawan untuk lintasan pesawat terbang dari berbagai jenis dan bentuknya. Puncak Semeru, Puncak Kelut, Puncak Gunung Kerinci, Puncak pegunungan Jayawijaya dan beberapa puncak gunung lainnya sama-sama memiliki tingkat resiko tinggi untuk lintasan jalur pesawat terbang.
Grafik Animasi perkiraan ketinggian lintasan SSJ 100 Rusia saat melintasi di atas Gunung Salak Bogor - Sukabumi
Grafik Animasi perkiraan ketinggian lintasan SSJ 100 Rusia saat melintasi di atas Gunung Salak Bogor - Sukabumi
Gunung-gunung tersebut kebanyakan memiliki ketinggian yang rata-rata lebih dari 3000 hingga 4000 meter dari permukaan laut. Belum lagi tebing-tebingnya juga memilki beragam kemiringan yang sangat ekstrim, dan cuara serta ketebalan awan maupun arus angin yang melintasi wilayah-wilayah puncak-puncak gunung tersebut sangatlah tidak bersahabat.

Namun akan tetapi daerah-daerah ekstrim tersebut bukanlah daerah-daerah neraka bagi lintasan pesawat terbang dari berbagai jenis dan bentuk apapun. Semua itu kembali kepada SDM (Sumber Daya Manusia) yang mengendalikan pesawat terbangnya. Karena kebanyak kecelakaan alat trasnportasi jenis dan bentuk apapun sering terjadi akibat SDMnya itu sendiri yang kurang memahami dan kurang disiplinnya mengendalikan alat-alat trasportasi apapun, termasuk pesawat terbang. Di luar itu baru sebagian kecil dari kurangnya fasilitas sarana dan prasarana alat transportasi.


Teka-teki Akibat Jatuhnya Pesawat SSJ 100 Rusia

Kembali kepada ke peristiwa jatuhnya pesawat SSJ 100. Sejak terjadinya musibah jatuhnya pesawat SSJ 100 hingga saat ini, banyak spakulasi yang memperkirakan jatuhnya pesawat SSJ 100 akibat banyak sebab yang tidak seragam, dan justru kedengarannya sungguh membingungkan masyarakat. Ada yang beranggapan jatuhnya pesawat SSJ 100 akibat adanya pembajakan pesawat SSJ 100 didalamnya saat perjalanan melakukan penerbangan pada demontrasi promosinya di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta, Rabu 9 Mei 2012 kepada para calon konsumen dari berbagai maskapai penerbangan nasional di Indonesia.

Sebelumnya demontrasi pertama pesawat SSJ 100 berjalan lancar dan tidak terjadi apapun sampai kelandasan pesawat di Lanud Halim Perdana Kusuma. Namun pada demontrasi keduanya pesawat SSJ 100 Rusia tersebut harus mengalami nasib yang tidak diduga-duga banyak orang. Pesawat ini menghilang dari kontak secara tiba-tiba.  Menurut sumber media yang melansir peristiwa ini, sebelum hilang kontak pada pukul 14.09 WIB, pilot pesawat sempat mengontak menara pengawas meminta izin melakukan penurunkan ketinggian jelajah dari 3 kilometer ke 1,8. Saat itu pesawat diperkirakan ada di atas wilayah Gunung Salak, Jawa Barat. Pesawat itu diawaki pilot dan ko pilot asal Negeri Beruang Merah. Dari daftar penumpang, pesawat itu mengangkut lebih dari 40 orang, termasuk beberapa jurnalis dan beberapa perwakilan dari pihak maskapai Sukhoi itu sendiri.

Tebing Bukit 1 Gunung Salak titik ditemukaannya pecahan pesawat SSJ 100 Rusia yang jaduh dan menabrak terbing tersebut
Tebing Bukit 1 Gunung Salak titik ditemukaannya pecahan pesawat SSJ 100 Rusia yang jaduh dan menabrak terbing tersebut

Disinilah awal misteri jatuhnya pesawat SSJ 100 Rusia yang banyak menjadi spekulasi tidak jelas. Menurut sumber dari situs russiatoday yang terlasir oleh Merdeka.com, bahwa pemerintah Rusia mengatakan ada kemungkinan pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) yang mengadakan demonstrasi terbang dan hilang dari pantauan radar itu dibajak pada Rabu 9 Mei 2012.

Sementara itu juga sebagian spekulasi yang terjadi ditengah-tengah hiruk pikuknya peristiwa SSJ 100 Rusia tersebut ada yang beranggapan adanya Human Error dan beberapa ragam spekulasi lainnya yang hingga saat ini berkembang terus, termasuk spekulasi adanya keluar dari rencana semula jalur lintasan yang sudah direncanakan sebelumnya oleh pihak SSJ 100 itu sendiri dengan panitia demontrasi promo SSJ 1oo sebagai pihak penyelenggara.

Untuk bisa mengungkap misteri jatuhnya pesawat SSJ 100 Rusia ini adalah ada pada Black Box (Kotak Hitam) pesawat SSJ 100 itu sendiri, namun hingga saat ini Black Box belum bisa ditemukan. Hal ini karena sulitnya medan dan kondisi alam yang sangat ekstrim, selain itu kondisi pesawat SSJ 100 sudah tidak beraturan lagi bentuknya.

Diantara puing-puing pecahan pesawat masih juga ada banyak jenazah yang belum terevakuasi. Maka hal ini pula tim penyelamat, khususnya dari berbagai kesatuan TNI dan POLRI yang dilibatkan harus berupaya bekerja keras mencari para korban dan juga mencari kunci jawaban misteri jatuhnya pesawat SSJ 100 Rusia itu sendiri, yaitu Black Box (Kotak Hitam).

Itulah menurut spekulasi yang mendekati kebenaran, bahwa untuk mengetahui peristiwa terjatuhnya pesawat SSJ 100 Rusia menabrak tebing puncak Gunung Salak 1 ada pada rekaman komunikasi antara pilok dengan pihak menara bandara. Bila Black Box ini berhasil ditemukan, maka besar kemungkinan misteri ini segera bisa terungkap, asal benar diupayakan untuk bisa diungkapkannya oleh pihak KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) secara profesional, tanpa ada tekanan dari pihak Sukhoi Superjet 100 (SSJ 100) itu sendiri, atau dari pihak pemerintah Rusia.

Black Box (Kotak Hitam) pesawat seperti ini yang harus ditemuakan sebagai alat bukti satu-satunya yang bisa mengungkap akibat jatuhnya SSJ 100 Rusia
Black Box (Kotak Hitam) pesawat seperti ini yang harus ditemuakan sebagai alat bukti satu-satunya yang bisa mengungkap akibat jatuhnya SSJ 100 Rusia

Bila Black Box SSJ 100 bisa ditemukan dan langsung diadakan penyidikan lebih lanjut oleh KNKT, maka bayang-bayang misteri tragedi pesawat SSJ 100 Rusia dapat terang benderang terungkap. Siapa penyebabnya dan apa akibatnya ?. Yang akhirnya kita semua bisa lebih jelas mengetahui misteri SSJ 100 Rusia yang selalu menjadi spekulasi negatif selama ini. Tentunya bagi para keluarga (ahli waris) korban SSJ 100 akan lebih lega dan bisa iklas dengan peristiwa ini. Selain itu ansuransi kecelakaan SSJ 100 Rusia sepenuhnya bisa diterima dengan jumlah nilai yang sesuai dijanji oleh pihak SSJ 100 Rusia dan pemerintah RI itu sendiri.

Seorang Anak Cari Bapak di gunung Salak


Angga Tirta (27 tahun) bisa dibilang nekat ketika ikut tim pencarian ke puncak Gunung Salak. Meski bukan pendaki gunung, Angga bertekad ikut untuk menemukan ayahnya yang merupakan salah satu penumpang Sukhoi, Capt. Aan Husdiana. 

Awalnya, Angga tidak diperbolehkan untuk ikut mencari. Tekad baja Angga menyebabkan dia sedikit membujuk tim pencari agar diperbolehkan ikut. 

"Saya lapor sama komandan. Saya bilang: 'Feeling saya ayah saya di lereng'," ucap Angga saat menceritakan ini di acara Kabar Utama tvOne.

Dalam pencarian, feeling Angga itu terbukti benar. Sebab, entah mengapa Angga seperti mendapat mukjizat yang menunjukkannya ke lokasi jatuhnya pesawat. Saat itu, tim memang sulit mendapatkan kepastian lokasi jatuhnya Sukhoi Superjet 100, walau lokasi sudah diketahui dari pantauan udara.

"Ternyata ada pesawat jatuh di lokasi tersebut," kata Angga. "Seperti mukzijat buat saya yang tidak pernah naik gunung," lanjutnya.

"Dia kasih petunjuknya lewat bau jengkol, bau petai (makanan favorit ayah Angga yang mengarahkan ke lokasi penemuan, red). Saat haus pun ada air," ucapnya.

Di pendakian itu Angga menemukan sebuah kartu identitas ayahnya. Sebuah kepastian yang membuatnya cukup ikhlas, sambil menunggu hasil identifikasi korban.

Simak penuturan kisahnya dalam video di tautan ini.

Source: vivanews.com